07 Juli 2007

BUAH HATIKU



DITA DAN WESTRI

Senyum simpul manis anakku Dita dan Westri..
Saat kau bergaya didepan kamera..

Canda mesra saat itu kita bersama..
Mengisi waktu libur sekolah.. di Kebun Raya Bogor..
Peluk trus.. gelitiki hati kita.. bernyanyi.. bermain.. berlari.. tiada henti..
Sampai kau terlelap tidur di pangkuan Papah..
Gumamkan nyanyian tentang kasih dan sayang..

Iringi leganya jalan hidup ini.. dari semuanya yg tercipta..
Hanyalah satu temani hidup.. kaulah buah hatiku..

Pandangi semua kemesraan.. taburi hatimu dengan cinta..
Kami selalu ingin dekat denganmu.. juga ingin membahagiakanmu..
Kita satu.. selalu bahagia selamanya..

17 Juni 2007

TEMAN2 SD/SMP RAYAKAN ULTAH ETNA


Hari Senin tanggal 11 Juni 2007 ada SMS masuk dari Etna, “al, ds dll... Kangen nih.. ketemuan yuk jum’at 15 Juni 2007 atau sabtunya.. di Gang Gang Sulai TIS, ada live shownya lho”. Nggak lama saya balas SMSnya ; Kangen.. ktemu.. mlepas rindu.., bcanda dan bnyanyi.. Se7.. lha..! Jum’at ok tuh Bu..!

Setelah teman2 yang lain setuju.. jadilah acara kangen bersama teman lama dimasa SD/SMP berlangsung pada hari Jum’at 15 Juni 2007 di Gang Gang Sulai Tebet Indraya Square (TIS). Teman teman yang datang cukup banyak, ada sekitar 20 orang. Seperti pada pertemuan2 yang lalu keakraban terasa hangat. Canda, tawa, cerita masa lalu, foto mesra bersama, bernyanyi dan berjoget menghiasi keceriaan pada malam itu.

Usut punya usut, ternyata baru tau kalau.. temen kita yang satu ini Etna Salawati Sarwata baru aja Ultah... Pada kesempatan itu kita orang teman2 SD Maut I dan SMPN3 Jakarta mengucapkan "Selamat Ultah.. Panjang Umur.. Diberi Sehat.. Sukses.. Murah Rizki.. dan bahagia selalu...”

Mau lihat fotonya2nya waktu acara. Klik aja di My Photo Album,
atau klik disini
http://s173.photobucket.com/albums/w75/gandhi_album/

15 Juni 2007

SMS KEPADA TEMAN

Sering kita melupakan jaringan teman2 kita, terutama teman2 lama yang jarang lagi kita tegur sapa. Kesibukan telah melarutkan kita pada perjalanan hidup dengan menghadapi apa saja yang datang didepan kita. Jarang lagi kita memikirkan hal2 diluar kebiasaan kita.

Jaringan teman kita kebanyakan terdiri dari teman yang jarang kita tegur sapa lagi. Teman yang hanya kita temui sekali atau dua kali dalam setahun dan tidak cukup untuk menjangkaunya.

Strategi yang dapat kita lakukan adalah pengiriman SMS secara masal kepada semua kontak kita yang ada di handphone kita. Saya coba biasakan meminta nomor handphone kepada teman baru kita dan langsung memasukkan nomornya ke handphone.

Pada hari Lebaran, Natal, Tahun Baru, saya coba kirimkan SMS kepada teman2 semua. Buat SMS yang menarik sebisa kita, jangan memakai tulisan umum atau memforward dari SMS teman. Sebuah originalitas di SMS itu akan mengingatkan orang akan kita.

Kirim kesemua kontak teman2, 100 sms minimal, lebih tentu lebih baik. Saya coba mengirim 100an sms pada Lebaran tahun lalu, dan menghabiskan sehari untuk kontak kontak SMS dengan teman2 lama dan baru yang membalas SMS saya.

Bila ada balasan dari orang yang tidak pernah kita kontak selama tiga bulan terakhir, saya kirim lagi sebuah atau dua SMS untuk menceritakan diri saya atau menanyakan keadaannya. Kirimkan kepada teman sekerja, pada supplier, customers, sanak family, sahabat jauh, orang yang baru kita kenal dikereta api/pesawat, ataupun teman SD/SMP/SMA/Universitas kita dulu yang masih diketahui nomornya.

Kita butuhkan network (teman) sejak dulu, sekarang dan dimasa yang akan datang. Persahabatan (network) harus kita jaga dan pelihara. SMS adalah salah satu strategi mudah yang dapat kita lakukan.


19 April 2007

INACRAFT 2007


The 9th JAKARTA INTERNATIONAL HANDICRAFT TRADE FAIR atau INACRAFT 2007 adalah Pameran Produk Kerajinan terbesar dan terlengkap di Indonesia yang diselenggarakan oleh Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) tanggal 18 - 22 April 2007 di Balai Sidang Jakarta Convention Center Jakarta.
Penyelenggaraan yang ke-9 (sembilan) kalinya ini secara khusus mengangkat Tema Sentral yaitu “BERSAMA MEMBANGUN JAKARTA SEBAGAI PUSAT PEMASARAN PRODUK KERAJINAN INTERNASIONAL”
Tema ini dicanangkan sesuai dengan kenyataan yang ada karena mengingat Jakarta sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia yang juga sekaligus menjadi Pintu Gerbang memasuki Wilayah Indonesia untuk berbagai kepentingan yang dilakukan oleh masyarakat internasional.
Demikian pula halnya dengan Produk Kerajinan Indonesia yang berasal dari berbagai daerah (33 propinsi) melalui penyelenggaraan Pameran INACRAFT setiap tahunnya pada bulan April di Jakarta secara langsung maupun tidak langsung telah menempatkan Jakarta sebagai Pusat Pemasaran Produk Kerajinan ke pasar internasional. Disamping itu Produk Kerajinan yang dihasilkan oleh negara lainpun saat ini banyak diperjualbelikan di Jakarta, maka tepat kiranya apabila Jakarta saat ini menjadi Pusat Pemasaran Produk Kerajinan Internasional.
Sejalan dengan hal tersebut diharapkan penyelenggaraan Pameran INACRAFT 2007 akan menjadi peletak dasar dibukanya Jakarta sebagai Pusat Pemasaran Produk Kerajinan Internasional dan diharapkan akan tercipta suatu pasar yang berkesinambungan sehingga dapat menunjang perluasan jangkauan pemasaran produk kerajinan Indonesia.
Oleh karena itu kepada teman teman yang akan menghadiri INACRAFT jika berkenan dan ada kesempatan untuk mengunjungi stand Batik Cirebon “EB BATIK TRADISIONAL” pada pameran ini di Hall A Mitra Binaan Bank BNI No. 6 dan Export Hall BPEN
Selamat berkunjung dan berbelanja di INACRAFT

15 April 2007

PENERBIT DAN KEGIATANNYA



Saya termasuk orang yang cukup senang membaca dan kurang pandai bicara, maka cukup banyak ide, kreativifitas dan unek-unek, dan sayang kalau dilewatkan begitu saja. Lewat tulisan apa saja yang ada dikepala bisa tersalurkan. Kegiatan tulis menulis dapat dijadikan sebuah kegiatan usaha (bisnis). Hasilnya secara ekonomi, sosial dan budaya sangat baik, jika dikelola dengan benar. Dampak sosial yang tidak kalah pentingnya adalah ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa, jika buku yang dihasilkan adalah buku yang cerdas dan bermutu.
Kebetulan saat ini saya sedang aktif mengelola usaha penerbitan buku peninggalan orang tua. Pekerjaan ini cukup menyenangkan buat saya. Namun demikian kita perlu mengerti apa saja kegiatan usaha penerbitan buku? Ingin tau apa saja kegiatan bisnis penerbitan buku! Berikut saya sampaikan tulisan mengenai kegiatan penerbitan buku, yang saya peroleh dari hasil pelatihan penerbitan buku yang diselenggaran IKAPI beberapa waktu yang lalu.
Penerbit adalah sebuah perusahaan yang memproduksi barang berupa buku yang harus dijual, untuk mendapatkan kembali modal yang sudah dikeluarkan, ditambah keuntungan. Buku adalah produk intelektual, seni, industri, dan ekonomi. Dikatakan produk intelektual, karena isi buku merupakan hasil pemikiran seseorang. Ketika proses penerbitannya pun, diperlukan kegiatan intelektual yang harus dikerjakan oleh Editor. Dikatakan produk seni, karena proses penyuntingan sering dikatakan sebagai kegiatan seni, dan isi buku merupakan karya seni. Demikian pula, ketika memproduksi buku, diperlukan unsur-unsur seni, misalnya dalam desainnya. Buku adalah produk industri, karena tahap produksinya melibatkan berbagai teknologi informasi dan mesin. Buku adalah benda ekonomi, merupakan barang dagangan. Ketika memproduksi buku, dipertimbangkan segi-segi komersial. Penyebaran buku merupakan kegiatan perdagangan.

Kegiatan usaha industri buku, dalam hal ini Penerbit sebagai produsen buku, memerlukan bagian-bagian yang khusus untuk menangani semua tahap penerbitan buku. Secara umum, bagian yang dimaksud adalah ; Bagian Editorial, Bagian Produksi, dan Bagian Pemasaran. Dapat saja, pada berbagai penerbit, nama-nama bagian ini berbeda-beda, tetapi fungsinya hampir sama.
1. BAGIAN EDITORIAL
Bagian Editorial atau Bagian Redaksi bertugas untuk mendapatkan naskah, lalu mempertimbangkannya apakah dapat diterbitkan. Jika akan diterbitkan, bagian ini mengolah naskah agar siap untuk diproduksi menjadi buku. Bagian Editorial ini juga yang banyak berhubungan dengan Pengarang selama proses penerbitan bukunya. Karena berhubungan langsung dengan Pengarang, Editor dapat dikatakan paling mengetahui isi buku dan tahu kepada kelompok pembaca mana buku itu ditujukan.
1.1. Mendapatkan dan Mempertimbangkan Naskah
Kegiatan pertama usaha penerbitan adalah mendapatkan naskah yang layak diterbitkan. Naskah dapat diperoleh dari penulis, pengarang, atau penerjemah yang datang ke penerbit membawa hasil karyanya. Penerbit yang lebih maju, merencanakan buku atau judul apa yang akan diterbitkan, berdasarkan pengamatan jenis atau judul apa yang diperlukan oleh pembaca sasaran. Kemudian penerbit mencari pengarang atau penulis yang tepat dan meminta mereka menulis naskah untuk buku yang direncanakan tersebut.
Bagian Editorial - dalam hal ini Editor Pemeroleh Naskah (Acquisition Editor) - akan menerima naskah tersebut, akan mempertimbangkan apakah naskah itu layak atau dapat diterbitkan. Dalam pertimbangan ini, diteliti apakah naskah itu memuat hal baru yang belum diterbitkan oleh penerbit bersangkutan atau oleh penerbit lain. Bila buku semacam itu pernah diterbitkan, apakah kelebihan-kelebihannya dalam hal muatan bahan, sistematik, dan penyajiannya. Apakah lebih baik daripada buku-buku yang sudah ada? Juga dipertimbangkan, siapa yang akan menggunakan buku tersebut. Apakah memang diperlukan buku baru? Jika sudah terbit nanti, apakah buku akan dapat dijual? Dipertimbangkan juga hal-hal lain yang menyangkut isi, wujud buku, pemakai, harga jual, apakah tepat waktu, dan sebagainya. Penerbit biasa juga meminta bantuan seorang ahli untuk memberikan penilaian terhadap naskah tersebut.
Ada beberapa kemungkinan keputusan, yaitu pertama naskah tidak diterima karena naskah tidak memuat hal baru, atau mungkin sudah ada buku yang serupa, baik diterbitkan oleh penerbit bersangkutan atau oleh penerbit lain. Kedua, naskah diterima dan diputuskan akan diterbitkan.
1.2. Perjanjian Penerbitan
Bila naskah diterima akan diterbitkan, biasanya diadakan perjanjian antara pengarang dan penerbit, yang antara lain memuat penyerahan hak menerbitkan naskah dari pengarang kepada penerbit, serta hak dan kewajiban pengarang maupun penerbit. Perjanjian itu penting untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari, dan menjadi pegangan bagi kedua pihak dalam kerja sama tersebut. Misalnya, Pengarang menyatakan bahwa naskah itu betul-betul karyanya sendiri dan Penerbit bersedia untuk menerbitkan naskah tersebut menjadi buku dalam waktu yang disepakati.
Selain itu, dalam perjanjian itu ditentukan imbalan bagi pengarang yang biasanya disebut royalti, yaitu bagian dari hasil penjualan buku. Pada dasarnya, royalti merupakan imbalan bagi pengarang, setelah buku jadi dan terjual, dalam jangka waktu tertentu. Ada juga penerbit yang bersedia menyelesaikan imbalan dengan cepat, misalnya dengan membayar sejumlah uang tertentu kepada pengarang, apa lagi bila pengarang memintanya. Meskipun ada Surat Perjanjian Penerbitan, hubungan penerbit dengan penga­rang hendaknya berdasarkan saling percaya dan saling mengerti.
1.3. Pengolahan Naskah.
Setelah mendapat naskah yang layak diterbitkan, Bagian Editorial mengolah naskah agar siap untuk dicetak. Kegiatan ini sering disebut penyuntingan atau editing. Bagaimanapun, naskah yang diterima dari pengarang belum tentu sempurna dan siap untuk diperbanyak menjadi buku.
Editor dapat membantu Pengarang dalam segi bahasa, jika Pengarang karena terlalu memusatkan perhatian pada materi naskah, mungkin kurang memperhatikan segi bahasa yang digunakan. Misalnya, dalam pemilihan dan penggunaan kata dan istilah, belum terdapat ketaatasasan atau belum baku. Dapat juga beberapa data atau keterangan perlu diperiksa kebenarannya. Mungkin ada hal yang menyinggung masalah kesopanan, hukum, atau undang-undang negara. Mungkin juga cara penyajian atau sistematika/urutan penyajian dapat diperbaiki. Selain itu diperlukan petunjuk-petunjuk bagi pencetak, bagai-mana penampilan buku yang diinginkan, sesuai dengan calon pembaca dan cara penggunaan buku tersebut. Semua hal tersebut dilakukan oleh Penyunting atau Editor, bekerja sama dan atas pengetahuan pengarang asli. Pada tahap penyuntingan ini, Editor tetap bekerja sama dengan Pengarang, dan segala per-ubahan sebaiknya diketahui dan disetujui oleh Pengarang.
Selain berhubungan dengan Pengarang dalam tahap penyun­tingan, Editor juga dapat memberikan saran-saran dan bantuan pada tahap produksi dan pemasaran buku.
2. BAGIAN PRODUKSI
Bagian Produksi penerbit bertanggungjawab atas produksi atau pembuatan buku dalam bentuk fisik atau wujudnya. Bagian Produksi merupakan penghubung antara Editor dan Pengarang, dengan perancang dan pencetak buku. Jika Penerbit mempunyai perancang buku, ia tergabung dalam Bagian Produksi. Untuk melaksanakan tugasnya, bagian ini bekerja sama dengan Bagian Editorial, dan bila di Penerbit tidak ada perancang buku, penerbit dapat menggunakan jasa desainer atau perancang buku dari luar. Pada beberapa penerbit, Bagian Produksi belanja kertas yang akan digunakan, dan berhubungan dengan pihak-pihak luar yang membantu dalam produksi buku. Pihak-pihak luar itu misal­nya perusahaan setting, reprografi, separasi warna, dan sebagai-nya. Bagian Produksi jugalah yang menghubungi dan ber-negosiasi dengan pencetak. Bagian Produksi bekerja sama dengan pencetak dan mengikuti seluruh proses pembuatan atau produksi buku di pencetak.
Berdasarkan jenis dan banyaknya pengerjaan proses, Bagian Produksi menghitung perkiraan biaya produksi. Bila perlu, dilaku­kan penyesuaian-penyesuaian cara pengerjaan, misalnya jika perlu penyesuaian biaya yang akan mempengaruhi harga buku.

2.1. Perancangan Bentuk Buku.
Jika proses penyuntingan selesai, atau dapat juga secara bersamaan, Bagian Produksi mulai merancang buku. Perancang menentukan bagaimana bentuk buku nanti. Bersama dengan perancang buku, ditentukan bentuk, ukuran, tata letak, ilustrasi, tebal, cara penjilidan, pemakaian jenis dan ukuran huruf untuk berbagai bagian buku, serta kertas sampul dan isi. Wujud buku selain indah, juga harus efektif menyampaikan isi buku, dan efisien.
Kemudian naskah dan desain buku dikirimkan ke pencetak untuk diproduksi. Pencetak belum tentu merupakan bagian dari penerbit bersangkutan. Tidak semua penerbit mempunyai pen­cetak sendiri. Banyak penerbit yang tak memiliki pencetak, mencetak bukunya di pencetak.
2.2. Produksi Buku
Di pencetak, naskah mengalami berbagai tahap pengerjaan. Tahap-tahap itu biasa disebut tahap pracetak, tahap pencetakan, dan tahap penyelesaian. Pertama-tama ialah yang disebut penyusunan huruf atau setting. Naskah, yang biasanya merupakan ketikan mesin tik atau komputer dengan huruf mesin tik, dicetak menjadi huruf-huruf cetakan buku yang lebih bagus dan sesuai dengan isi buku dan pengguna buku. Untuk berbagai bagian buku, digunakan huruf khusus, misalnya untuk judul bab digunakan huruf yang lebih besar. Untuk menonjolkan suatu kata, istilah, atau kutipan, digunakan huruf tebal, huruf miring, atau huruf kurus. Ukuran lebar baris, jarak antarbaris, jarak antarparagraf, indentasi, pengoloman, dan jumlah baris per halaman pun diterapkan pada tahap setting ini. Besar dan jenis huruf pun ditentukan oleh Editor bersama perancang buku. Hasil setting dipe,riksa oleh korektor, kalau-kalau ada kesalahan, disesuaikan dengan isi naskah asli yang telah diedit. Setelah dikoreksi, hasil setting diperbaiki sehingga bebas dari kesalahan-kesalahan. Tahap selanjutnya ialah lay-out atau paste-up, yaitu penyusun­an hasil setting, digabung dengan ilustrasi, tabel, dan grafik, menjadi halaman-halaman buku. Biasanya buku dicetak tidak satu-satu atau dua halaman, tetapi empat, delapan, bahkan adayang enam belas halaman sekaligus pada mesin dan lembaran kertas besar.
Jadi perlu disusun lembaran-lembaran cetak yang terdiri dari jumlah halaman sesuai dengan ukuran kertas dan mesin. Pekerja-an tersebut biasa disebut imposisi. Dengan menggunakan lembaran plat cetak, lembaran halaman-halaman tersebut dicetak pada mesin cetak, yang meng-hasilkan lembaran kertas bercetak. Lembaran cetak tersebut, yang biasa dinamakan katern, kemudian dilipat-lipat sehingga diperoleh ukuran sebesar halaman buku jadi, dengan urutan halaman yang berurut. Lembaran-lembaran besar yang telah dilipat tadi kemudian dikomplit, disusun menurut urutan halaman isi buku agar diperoleh susunan isi buku lengkap, yang kemudian diberi jilid. Jilid buku biasanya dicetak di atas kertas jilid yang lebih tebal dan lebih bagus. Setelah dijilid, buku dirapikan, dipotong tiga sisinya sehingga diperoleh buku jadi. Begitu selesai dicetak, buku semuanya diserahkan ke penerbit, dan pencetak dibayar atas jasanya mencetak buku tersebut.
3. BAGIAN PEMASARAN
Setelah buku selesai dicetak, buku diurus oleh Bagian Pemasaran; ada juga yang menyebutnya Bagian Penjualan, atau Bagian Distribusi. Secara garis besar, kegiatan Bagian Pemasaran meliputi promosi, distribusi, dan penjualan. Bagian Pemasaran-lah yang bertugas memperkenalkan buku kepada masyarakat, lalu mengirimkannya ke tempat-tempat penjualan atau melalui penyalur/distributor, ke penjual eceran misalnya toko buku. Dengan demikian buku dapat dibeli, kemudian dimanfaatkan oleh pembaca atau penggunanya.
3.1. Promosi.
Pengenalan buku kepada masyarakat dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya mengirimkan contoh kepada orang-orang yang dapat menganjurkan pemakaiannya. Dapat juga dengan mengirimkan contoh buku ke perpustakaan-per-pustakaan, ke toko buku, ke sekolah, serta ke media massa untuk dibuat tinjauan atau resensinya. Dapat juga dilakukan melalui media cetak, misalnya diiklankan dalam media massa atau dengan selebaran dan poster atau spanduk. Bentuk-bentuk pro-mosi lain di antaranya pameran buku, peluncuranbuku, diskusi atau bedah buku, temu pengarang, dan pameran buku. Selain memberitahu dan mengenalkan masyarakat terbitnya buku baru, tentu saja promosi juga membujuk masyarakat agar membeli buku tersebut. Antara lain dengan mengungkapkan manfaat buku serta kelebihan buku dibandingkan dengan buku lain.

3.2. Distribusi dan Penjualan
Bagian Pemasaran juga mengurus pengiriman buku ke tempat-tempat penjualan. Pengiriman itu dapat dilakukan dengan sarana sendiri, dapat juga melalui jasa-jasa pengiriman umum, misalnya pos, perusahaan pengiriman barang, atau kereta api. Ke mana buku dikirimkan? Tentu saja buku tertentu dikirimkan ke tempat-tempat penjualan sesuai dengan pembaca sasaran. Sekarang buku tidak hanya dijual di toko buku. Beberapa jenis buku dapat juga dijual di bukan toko buku. Misalnya buku bacaan anak-anak dijual di toko serba ada; buku bisa dijual di kios di stasiun, di pasar swalayan, di hotel, di pinggir jalan. Bahkan buku-buku yang bagus dan mahal, biasa dijajakan langsung dari kantor ke kantor, dari rumah ke rumah, di pameran buku, dan sebagainya.
Dalam hal menjual buku ini penerbit mempunyai mitra, yaitu para penyalur atau distributor buku dan toko-toko buku. Jadi, bila ada penerbit yang menjual langsung buku-bukunya ke sekolah, penyalur dan toko buku terlampaui. Murid-murid pun yang hanya membeli buku pelajaran di sekolah, tidak melihat buku-buku lain yang bagus dan menarik, yang banyak terdapat di toko buku. Jadi, sebaiknya penerbit mempromosikan atau memperkenalkan bukunya ke sekolah-sekolah, tetapi murid dianjurkan membeli buku di toko buku sehingga dapat melihat dan menemukan buku-buku lain. Di luar negeri, buku juga dijual melalui book club. Di Indonesia pun, sudah ada usaha semacam itu, meskipun belum berjalan sebagaimana diharapkan. Sebagian besar diselenggarakan oleh Penerbit dengan menjual buku-buku terbitan Penerbit itu sendiri.
4. KERJASAMA ANTAR BAGIAN
Di antara kegiatan-kegiatan ketiga bagian tersebut, harus ada kerja sama. Bagian Editorial selain berusaha menerbitkan naskah yang bermutu menurut pendapatnya juga harus mendengar dari Bagian Pemasaran, buku-buku apa yang diinginkan atau diperlu-kan masyarakat. Bagian Produksi yang merencanakan buku harus mendengar juga dari Bagian Pemasaran, berapa harga buku yang mampu dibeli oleh pembaca atau pengguna sasaran. Bagian Produksi tidak dapat membuatbuku tanpa mendengar saran-saran dari Bagian Editorial maupun Bagian Pemasaran. Bagian Editorial yang mengetahui benar isi buku dan siapa penggunanya berdasarkan keterangan dan petunjuk pengarang, dapat membantu Bagian Pemasaran menyarankan kepada siapa buku harus diperkenalkan dan bagaimana cara-cara promosi dan penjualannya, tidak hanya menyimpan buku di toko buku.
Demikianlah gambaran tentang penerbit buku dengan kegiatanya. Tentu saja, bergantung kepada besar-kecilnya penerbit, ada perbedaan-perbedaan dalam organisasi, struktur, dan cara kerjanya. Namun, pada dasarnya pada semua penerbit ada fungsi editorial, fungsi produksi, dan fungsi pemasaran, di samping tentu saja, fungsi administrasi, keuangan, dan bisnis.

05 April 2007

KEINDAHAN DAN KENIKMATAN ITU SEDERHANA



Tanggal 02 April 2007, Jam 08.40, saya baru saja terima SMS dari Mahasta Bembi teman lama waktoe sekolah di SMP. Isi SMS “Undangan rapat Ikatan Alumni SMPN 3 Jkt, Jum’at tgl 06 April 07, jam 14.00, di Gd Cawang Kencana Jl. Soetoyo 22 Jakarta Timur”. 

Terbayang teman teman SMP tempo doeloe yang sudah lebih 30 tahun tidak pernah bertemu, dan terlintas banyak kenangan indah ketika SMP dulu. Ada kenangan, ada kepolosan, ada kekompakan, ada kegembiraan dan ada kesederhanaan yang tersimpan menawan disana.

Semangatnya waktu berangkat sekolah naik becak atau sepeda, cerianya main volley/ basket/ pingpong, enaknya jajan bakso dan es dibelakang sekolah, dan gembiranya waktu ngobrolin teman2 cewek. Adakah hal2 kecil seperti itu masih bisa kita rasakan? Apakah "inner joy" kita masih bisa bersorak sorai seperti dulu, ataukah sudah tidak ada lagi "keceriaan nurani" ini dalam kehidupan kita sekarang? 

Sekarang kita sering merasakan hanya puas pada kesuksesan, keberhasilan yang hingar bingar, keuntungan yang berlimpah. Tapi pernahkah kita menikmati keindahan pada hal2 yang sederhana.

Kehidupan bukanlah hanya berisi sederetan rekor kesuksesan dan tonggak tonggak sejarah, tetapi juga berisi rentetan kesederhanaan yang indah dan penuh arti.

Ada seekor cicak yang sedang kasmaran dan mengejar betinanya, ada daun kuning jatuh dari pohon besar, ada pula segelas air putih yang terasa nikmat sekali.

Kenikmatan itu murah, kalau kita tau bagaimana cara menikmatinya. Kita tidak perlu tersandera oleh dogma kehidupan yang harus mendewakan harta dan materi. Tapi merasakan rasa indah dalam kesederhanaan yang ada.

Mungkin telah terjadi puluhan kali hal kecil yang indah yang kita lalui hari ini, tetapi mata kita sering tertutup pada satu proyek yang tidak juga goal itu... Mengapa tidak mencoba membuka mata kita? Kita bagaikan orang yang berada didalam bus yang melewati jalan2 yang luar biasa indah pemandangannya, tetapi kita tutup gorden penutup jendela bus, sehingga apapun tidak terlihat dari dalam.

Rasakan apapun yang kita lalui, karena hidup ini cuma perjalanan saja. Dan bagaimana kita memilih cara kita memandang hidup ini, adalah hak kita sendiri. Cobalah menikmati kesederhanaan keindahan itu dan menjalani dengan penuh rasa.

Semoga ini dapat menggugah kita untuk lebih mengenali lagi keindahan kecil yang bisa kita lalui dan sering lupakan dalam hidup ini.

23 Maret 2007

INDUSTRI RAKYAT DI CIREBON



Tulisan ini disusun 1,5 tahun yang lalu, waktu saya memutuskan untuk berhenti pada usaha Mebel Rotan di Cirebon. Tulisan ini pernah dimuat Koran Radar Cirebon. Tulisan lengkapnya sebagai berikut :
Dua pekan yang lalu saya diajak rekan bisnis yang bergerak dibidang Batik Cirebon, berkunjung ke kantor Mark Plus. Gedung tujuh lantai yang terletak dikawasan Segitiga Emas Business Park CBD B 01/01 Jl. Prof Dr Satrio Kav 6 Jakarta merupakan markas besarnya Mark Plus & Co. Mendengar Mark Plus sebagian pengusaha Indonesia pasti mengenal siapa aktor dibelakangnya. Hermawan Kartajaya pakar marketing yang sudah tidak asing lagi. Pertemuan dengan orang Surabaya yang kini dijuluki sebagai salah seorang dari 50 guru marketing kelas dunia sekaligus pimpinan puncak MarkPlus & Co ini begitu akrab, santai namun mengena.
INDUSTRI RAKYAT BERORIENTASI EKSPOR
Sebagai pengusaha yang mengais rejeki di Cirebon kami berdua bercerita bagaimana industri daerah mampu memberikan nafkah bagi ratusan ribu masyarakat sekitarnya. Berbagai industri kerajinan rakyat, sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu tumbuh subur di Cirebon mulai dari kerajinan rotan, batik, sandal, gerabah, pande besi, gula, makanan kering, hingga mainan anak-anak yang sebagian besar berorientasi ekspor. Namun demikian industri yang menjadi gantungan hajat hidup rakyat banyak, satu persatu mulai ambruk karena tidak mampu bersaing dengan pasar global.
INDUSTRI kerajinan tangan rakyat di Cirebon secara ekonomi tidak bisa dianggap enteng. Industri rotan di Tegalwangi, Kecamatan Plumbon, misalnya, merupakan industri padat karya yang mampu menyerap lebih dari 400.000 tenaga kerja, termasuk tenaga kerja yang terserap sektor pendukungnya seperti transportasi, akomodasi dan konsumsi.
Sebelum diterpa banyak masalah industri mebel dan kerajinan rotan di Tegalwangi, Cirebon, rata-rata mampu mengekspor 1.500 kontainer per bulan ke berbagai negara di Eropa, Amerika, Asia dan Australia. Jika rata-rata berat per kontainer sekitar 3 ton dijual dengan harga sekitar 8.000-9.000 dollar AS per kontainer, berarti kontribusi ekspor rotan Cirebon sekitar 13,5 juta dollar AS setiap bulan atau Rp 135,5 milyar dengan kurs Rp 10.000 per dollar AS. Pendapatan yang sungguh sangat besar untuk ukuran wilayah setingkat Kabupaten.
Akan tetapi setelah banyak masalah menghadang, kemampuan ekspor kerajinan rotan turun menjadi berkisar +/- 500 kontainer saja per bulan. Berbagai masalah menghadang industri rotan Cirebon, mulai dari sulit dan mahalnya bahan baku, meningkatnya biaya produksi (ekonomi biaya tinggi), sepinya order (market) hingga harga jual yang semakin merosot.

Tahun 1995 mebel rotan Cirebon masih bisa bersaing dengan mebel rotan produksi China, tetapi sekarang China tak bisa disepelekan. Dari sisi desain dan kualitas, mereka tak kalah dari produk kita, sementara harganya bisa jauh lebih murah dari produk mebel rotan Cirebon. Padahal Indonesia menguasai sekitar 80 persen bahan baku rotan dunia. Dengan dibukanya kran ekspor bahan baku rotan oleh Pemerintah dikuatirkan industri mebel Cirebon akan semakin terpuruk.

Kebijakan menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), ikut menambah beban derita industri mebel rotan Cirebon. Meningkatnya harga bahan baku rotan, upah tenaga kerja, bahan finishing, dokumen ekspor dan biaya overhead lainnya tak mampu menahan tingginya harga pokok produksi mebel rotan Cirebon. Belum lagi beban bunga bank serta pungutan pajak dan retribusi daerah menjadikan harga jual produk mebel rotan Cirebon semakin tidak mampu bersaing dengan negara produsen lainnya.

Kekuatiran Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Ir Soenoto perihal ambruknya industri mebel atau furnitur di Indonesia dalam waktu kurang dari lima tahun ke depan menjadi pembahasan kami dengan Pak Hermawan Kartajaya.
Mendengar situasi dan kondisi tersebut pakar marketing ini berpendapat bahwa “Melimpahnya Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM) di negeri kita mendorong pengusaha kita agar lebih kreatif menciptakan atau membuat produk yang kemudian menjualnya ke pasar. Namun kelemahan yang tidak disadari pengusaha kita dalam berdagang adalah masih bersifat production oriented belum kepada market oriented apalagi customer-centric.

GLOBALISASI DAN TEKNOLOGI MENDORONG PERUBAHAN
Globalisasi dan teknologi sering juga disebut sebagai penyebab situasi persaingan usaha mendadak jadi kacau balau (chaostic). Menurutnya Globalisasi sendiri sebenarnya bukan barang baru, sejak dulu para pedagang sudah berpergian ke luar negeri bahkan luar benua untuk menawarkan produk dagangannya. Ingat jalan sutra (Silk Road). Indonesiapun dijajah Belanda, karena disini banyak rempah-rempah yang merupakan komoditi langka di Eropa. Hanya masalahnya, globalisasi pada waktu itu berjalan sangat pelan. Namun dengan adanya teknologi informasi yang demikian hebat maka globalisasi jadi menghebat. Kenapa? Karena informasi jadi transparans. Dengan demikian, perbedaan harga bisa cepat diketahui. Begitu juga dengan perbedaan kesempatan yang ada diberbagai tempat bisa cepat diperbandingkan.
Karena itu, perdagangan dan investasi mendadak saja jadi mengglobal. Orang dengan mudah memanfaatkan informasi yang mudah dan murah tersebut untuk berdagang kemana saja dan melakukan investasi dimana saja. Pokoknya untung. Apalagi lembaga dunia yang punya “global govermence power” juga ikut campur untuk menghapuskan segala macam hambatan. Walaupun pemerintah lokal ingin melindungi pasarnya, tapi lama-kelamaan pertahanan jebol juga.

Dalam situasi seperti itu, perusahaan-perusahaan biasanya punya proses kerja dengan berorientasi pada produksi, penjualan atau paling-paling pemasaran sesuai dengan situasi persaingan masing-masing. Ketika situasi persaingan masih stabil, maka perusahaan akan product-oriented. Pokoknya, membuat barang atau jasa dengan harga semurah-murahnya. Efisiensi jadi panglima. Bagaimana dengan kebutuhan dan kemauan pasar? Itu tidak terlalu perlu, karena pasarnya toh belum “pintar”.

Ketika globalisasi mulai berjalan, biasanya sudah mulai terjadi perubahan atau change yang diskontinue. Inilah yang ia sebut sebagai situasi persaingan njelimet atau sophisticated. Yang membuat perubahan itu makin surprise terjadilah situasi persaingan yang disebut chaos (kacau balau).

Lantas bagaimana dengan teknologi? Teknologi sudah menjadi primary force of change dari waktu ke waktu. Dan teknologilah yang selalu mendorong globalisasi. Lihat saja waktu revolusi industri terjadi. Produksi jadi berlebih lebihan, maka harus diekspor, karena akan mubazir bila dibiarkan.

Apalagi dengan adanya teknologi informasi yang memungkinkan munculnya informasi yang lebih cepat dan tepat, kemana barang itu mesti dibawa, dan juga dimana sebaiknya barang itu mesti dibuat.

Karena itu globalisasi dibidang perdagangan dan investasi itu memang jadi tumbuh hebat dengan adanya teknologi informasi. Disamping itu, teknologi informasi sudah jadi makin murah ketika pembuatannya mulai dilakukan dimana-mana. Jadi globalisasi dan teknologi memang saling memperkuat satu sama lain.

Pada kesempatan terakhir saya berharap kepada Pak Hermawan agar dapat menyempatkan diri berkunjung ke Cirebon untuk berbagi ilmu dan pengalaman dengan teman teman pengusaha didaerah dalam rangka mempertahankan industri rakyat yang berpihak kepada keadilan, kemakmuran untuk bangsa negara kita tercinta. Jangan biarkan anugrah yang sudah diberikan oleh Yang Maha Pencipta berupa sumber daya alam dan sumber daya manusia yang melimpah menjadi duka nestapa karena ketidakmampuan kita untuk mengelolanya.