02 Oktober 2008

SELAMAT LEBARAN



Pada kesempatan ini saya ingin mengucapkan : Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H
Kesempurnaan hanya milik Allah SWT, dan kekurangan menjadi milik saya hambaNya..
Mohon maaf atas segala kekhilafan, yang tidak disengaja, yang terasa ataupun tidak saya sadari..
Semoga masih bisa bertemu lagi dengan bulan Ramadhan yang penuh barokah dan maghfirah ini.
Taqabalallaahu minnaa wa minkum, mohon maaf lahir dan batin.

Saya dan keluarga,
Gandhi Purwanto

30 September 2008

MUDIK LEBARAN


Minggu 28 Sept 2008 jam 09.00 pagi saya berencana mudik ke Cirebon. Walau acara pulang ke Cirebon hampir dilakukan seminggu sekali, namun menjelang lebaran ini terasa berbeda. Acara pulang ke Cirebon kali ini cukup memberi kesan yang mendalam bagi saya.

Sungguh pemandangan yang memprihatinkan melihat banyaknya orang yang berjuang untuk bisa masuk kedalam kereta api dengan cara berjubel dan berhimpit-himpitanan. Ritual massal setiap tahun yang selalu berulang. Apa yang membuat mereka rela bersusah payah menempuh perjalanan yang melelahkan itu. Berjubelan di atas kereta api atau berhimpitan di dalam bus.

Sampai di Cirebon pemandangan memprihatinkan nampak di jalur pantura. Fenomena yang baru berlangsung beberapa tahun terakhir adalah mudik dengan sepeda motor. Tidak tanggung-tanggung tujuannya, hampir ke semua kota di pulau Jawa. Sungguh tidak masuk akal, naik motor bersama istri dan 2 anak yang masih balita serta barang bawaan berupa setumpuk oleh-oleh untuk orang di kampung. Satu anak balita ditaruh di depan seolah-olah sebagai tameng bapaknya dari hembusan angin. Satu anak lagi yang masih bayi digendong oleh ibunya di belakang. Di belakang ibunya ada tumpukan barang berisi baju dan oleh-oleh. Semuanya cukup dengan satu sepeda motor saja. Seperti sirkus saja tampaknya.

Iring-iringan pemudik memenuhi jalan-jalan di Pantura. Ratusan ribu sepeda motor berebut jalan dengan mobil dan bus. Di antara mereka ada pula rombongan sopir bajaj yang membawa bajajnya lengkap seisi keluarganya. Panas terik mau mereka tempuh. Untung saja lebaran tahun ini masih jatuh pada musim panas sehingga mereka tidak sakit terkena hujan. Mereka bagaikan orang-orang yang eksodus dari kota besar. Tujuannya satu, ingin segera pulang ke tanah asal, tempat dimana mereka dilahirkan dan dibesarkan.

Melihat pemandangan mudik, ada keharuan yang mendalam saya rasakan. Mata ini berkaca-kaca melihat pemandangan yang mengharukan itu. Begitu menggebu keinginan orang-orang untuk pulang lebaran ke kampung halaman. Padahal kalau mereka mau, mereka bisa saja pulang pada hari-hari yang lain, tidak perlu berdesak-desakan dan bersusah payah seperti itu, tetapi semua orang seolah-olah sepakat bahwa tidak afdhol kalau tidak pulang pada saat Hari Raya. Karena itu berbagai cara ditempuh supaya bisa pulang meskipun nyawa jadi taruhannya.

Mudik adalah khas orang Indonesia. Di dalam Islam tidak ada ajaran untuk mudik pada Hari Raya Idul Fitri. Namun, di dalam mudik terkandung ajaran silaturahmi. Dengan mudik, hubungan persaudaraan dengan keluarga dan kerabat di kampung tetap dijaga dan diwariskan ke anak cucu. Inilah inti ajaran Islam yaitu ajaran kasih sayang.

Dari sisi ekonomi mudik juga membawa manfaat yang tidak terbayangkan oleh ahli-ahli ekonomi. Selama 11 bulan perputaran uang nasional hanya beredar di kota-kota besar. Percaya atau tidak, delapan puluh persen uang nasional beredar di Jakarta. Para ahli ekonomi bingung bagaimana cara memindahkan peredaran uang dari Jakarta ke daerah-daerah untuk membangkitkan perekonomian di daerah itu. Jawabannya ternyata sederhana: mudik lebaran. Dengan mudik, orang-orang membawa banyak uang ke daerah. Di sana uang dibagikan ke sanak saudara, sebagian lagi dibelanjakan. Ekonomi daerah menggeliat sejenak karena kedatangan uang dalam jumlah banyak. Sektor riil berdenyut, bisnis bergerak. Meski hanya sebentar, tapi peristiwa mudik lebaran itu mampu menggerakkan sendi-sendi perekonomian daerah.

Karena itu, kegiatan mudik perlu dijaga dan dilestarikan karena besar manfaatnya, baik secara rohani maupun secara materi. Kerepotan karena mudik adalah hal yang biasa, setahun sekali tak apa-apalah. Para pemudik tidak mempermasalahkan fasilitas transportasi yang kurang memadai. Bagi mereka perjalanan mudik itu ibarat tamasya saja. Lihatlah wajah-wajah pemudik pada arus balik. Tidak terlihat keletihan pada wajah-wajah mereka, yang tampak adalah keriangan karena telah bertemu sanak saudara. Kampung halaman memang memberikan banyak inspirasi dan semangat baru untuk meniti hidup selama 11 bulan berikutnya.

Persoalan yang tidak pernah mampu dilakukan pemerintah adalah menyediakan moda transportasi yang memadai dengan aman dan nyaman. Sudah selayaknya pemerintah yang bertanggung jawab akan memperhatikan keselamatan dan kenyamanan setiap warganegaranya yang hendak melaksanakan mudik lebaran.

13 Agustus 2008

BELAJAR DARI KESULITAN HIDUP


Masih segar dalam ingatan saya, kemarin sore sehabis pulang kerja, rekan Etna dan Yumai ngajak makan sambil ngobrol di Pasar Festival Kuningan Jakarta. Sambil menikmati Mie Bakso Spesial GM, topik hangat yang muncul adalah soal makin banyak orang terbenam dalam kesulitan hidup.

Banyak pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Kenapa ya cari uang saat ini makin susah saja. Guna memenuhi kebutuhan pokok seperti sandang, pangan dan papan, pusingnya 7 keliling. Sementara biaya pendidikan anak-anak makin membengkak. Cobaan apa lagi, jika ada anggota keluarga sampai ada yang jatuh sakit hingga harus dirawat di Rumah Sakit. Andai hati sudah lelah untuk bersabar dan otak mulai tidak mampu berpikir jernih maka rasa cinta kasih mulai hilang hingga keharmonisan hidup berumah tangga bakal jadi taruhannya. Ujungnya hancur lebur semua cita dan cinta yang sudah lama dibangun dengan susah payah.

Setiap orang punya pengalaman dalam menghadapi kesulitan hidup. Saya jadi teringat dengan cerita tentang “Seekor Keledai” Semoga ilustrasi cerita ini dapat kita jadikan wacana dalam menyikapi kesulitan hidup.

Ceritanya begini ;
Suatu hari seekor keledai milik seorang Petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis dengan tersedu-sedu selama berjam-jam. Pak Tani berpikir, apa yang bisa dia lakukan untuk menolongnya. Atas pertimbangan keledai miliknya bodoh, malas, tidak kreatif dan selalu menjadi beban hidup Pak Tani maka diputuskannya untuk mengubur hidup2 sang keledai.

Pada saat mengetahui niat Pak Tani, untuk menghabisi sang keledai, maka pecah raungan tangis sang keledai yang semakin menjadi. Kematian sudah dekat didepan matanya. Namun apa yang terjadi. Adakah keajaiban disana.

Setelah beberapa sekop tanah dituangkan ke dalam sumur, sang keledai mulai berpikir dan berusaha untuk menyelamatkan hidupnya. Walau punggungnya terus ditimpa bersekop-sekop tanah dan kotoran, sang keledai melakukan sesuatu dengan mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu ia menaiki tanah itu. Pak Tani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, sementara sang keledai dengan tekun terus berusaha menguncangkan badannya dan melangkah naik. Hup.. ternyata sang keledai berhasil loncat dan lepas dari maut..! Alhamdulillah serunya..

Dari ilustrasi cerita tersebut dapat kita tarik pelajaran bahwa ”Semua kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan bagi kita untuk tumbuh dan berkembang”. Jadi sebenarnya kesulitan hidup bukanlah akhir dari segalanya, melainkan justru permulaan bagi kita untuk naik ke taraf kehidupan yang lebih baik. Ada kesempatan bagi kita untuk tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang lebih baik.

Sesungguhnya Tuhan menganugerahkan kepada kita semua kemampuan dan kekuatan untuk bertahan dalam menghadapi penderitaan dan kesulitan yang sering kali sampai pada batas-batas daya tahan kita sebagai manusia. Namun jika kita tetap bisa bertahan dan memiliki keyakinan yang kuat, kita pasti dapat menahan dan keluar dari penderitaan itu.

Untuk menutup tulisan ini salah satu tokoh idola saya, yaitu Mahatma Gandhi berkata bahwa ; “Bimbingan Tuhan sering muncul saat cakrawala dalam keadaan paling gelap”.

25 Juli 2008

JUJUR DAN POLOS


He2.. menarik dan menggelitik tulisan yang dikirim seorang teman yang bercerita soal kejujuran dan kepolosan seorang penebang kayu. Coba baca dan simak baik baik cerita ini ;

Pada suatu hari ada seorang penebang kayu yang sedang menebangi cabang sebuah pohon yang melintang di atas sungai. Tiba-tiba kapaknya terjatuh ke sungai itu. Ketika ia mulai menangis, Yang Kuasa (YK) menampakkan diri dan bertanya, "Mengapa kamu menangis?" Si penebang kayu menjawab bahwa kapaknya telah terjatuh ke dalam sungai. Segera YK muncul dengan sebuah kapak emas. "Inikah kapakmu?" YK bertanya. "Bukan" si penebang kayu menjawab. Maka YK masuk kembali ke air dan muncul dengan kapak perak. "Inikah kapakmu?" YK bertanya. "Bukan" si penebang kayu menjawab. Sekali lagi YK masuk ke air dan muncul dengan kapak besi."Inikah kapakmu?" YK bertanya. "Ya" jawab si penebang kayu. Tuhan YK sangat senang dengan kejujurannya dan memberikan ketiga kapak itu kepadanya. Si penebang kayu pulang ke rumahnya dengan keyakinan dan hati bahagia.

Beberapa waktu kemudian, si penebang kayu berjalan-jalan di sepanjang sungai dengan istrinya. Tiba-tiba sang istri terjatuh ke dalam sungai. Ketika ia mulai menangis, Tuhan menampakkan diri dan bertanya, "Mengapa kamu menangis" Si penebang kayu menjawab bahwa istrinya telah terjatuh kedalam sungai. Segera Tuhan masuk ke dalam air dan muncul dengan Jennifer Lopez. "Inikah istrimu?" Tuhan bertanya. "Ya" si penebang kayu menjawab. Mendengar itu,Tuhan menjadi sangat marah. "Kamu sudah tidak jujur..! Aku akan mengutukmu..." tegur Tuhan. Si penebang kayu segera menjawab, "Maafkan saya, ya Tuhan. Ini hanya kesalahpahaman belaka. Kalau saya berkata "Bukan" pada Jennifer Lopez, Engkau pasti akan muncul kembali dengan Catherine Zeta Jones. Kalau saya juga berkata "Bukan" kepadanya, pada akhirnya Engkau pasti akan muncul dengan istri saya dan saya akan berkata "Ya". Kemudian Engkau pasti akan memberikan ketiganya kepada saya. Saya adalah orang miskin. Saya tidak akan mampu menghidupi mereka bertiga. Itu sebabnya saya menjawab "Ya".

Ha2.. Luar biasa orang sejujur dan sepolos dia ternyata mampu membuat bingung YMK...

04 Juni 2008

PUSAT BUKU INDONESIA (PBI)




Pada hari Jumat 30 Mei 2008, saya baru saja menghadiri pembukaan Pusat Buku Indonesia yang diresmikan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. Lokasinya terletak di Kelapa Gading Trade Center (Hypermall), Jl Boulevard Barat Kelapa Gading (diseberang Makro).



Pusat buku ini akan menjadi pusat buku terlengkap se-Indonesia karena semua penerbit yang tergabung dalam Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) menampilkan buku terbitannya. Lalu, apa yang membedakannya dengan toko buku atau pameran buku? Di tempat ini setiap penerbit mengambil stan. Jadi, layaknya seperti pameran, tetapi dilakukan sepanjang tahun. Sementara selama ini, penerbit menitipkan bukunya di toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, bukan menjual sendiri. Meskipun demikian, PBI bukan bermaksud mematikan toko buku yang sudah ada, melainkan memberi alternatif baru bagi penggemar buku.

Selama ini, konsumen sering kesulitan memperoleh buku-buku lama di toko buku, apalagi buku yang kurang laris. Biasanya buku-buku ini sudah dikembalikan (diretur) oleh toko buku. Bahkan ada buku yang bertengger di rak toko buku cuma sebulan, sebelum ditarik dari peredaran akibat kurang diminati.

Wapres Jusuf Kalla dalam sambutannya mengatakan “sebuah industri akan maju jika sistem distribusinya baik. Konsumen harus diberi kemudahan untuk memperoleh buku”. Jangan sampai, biaya transport untuk menuju toko buku lebih mahal daripada harga bukunya sendiri” Saat ini tidak mudah menemukan toko buku di setiap kota. Masih mudah menemukan toko televisi, hand phone maupun toko emas. Bahkan di kampung beliau Makassar, lebih banyak toko emas daripada toko buku.

Diharapkan, tempat ini akan ramai dikunjungi dan menjadi salah satu agenda wisata yang menarik bagi setiap wisatawan. Bagi orang daerah, ke Jakarta bukan hanya untuk memborong baju di Mangga Dua atau Tanah Abang, tetapi juga untuk memborong buku di Pusat Buku Indonesia. Jadi bagi Anda yang sedang mencari-cari buku kebutuhan Anda dan belum juga menemukannya, maka di pusat buku inilah Anda bisa mencari dan menemukannya.
Sementara sebagian penerbit sudah membuka showroomnya. Bahkan penerbit Gramedia akan mengambil 84 stan (satu stand berukuran 7 m2). Penerbit Teater Koma, CSIS membuka stand di sini. Penerbit lain ada Mizan, Asy Syamil, MQS, Erlangga, Yudhistira, dsb.

Penerbit yang saya kelola bernama INDHILL CO, buka stan dilantai 2 Blok E18/03. Buku-buku Hukum Perundang undangan, Sosial kemasyarakatan, Ekonomi, Manajemen dan Politik merupakan buku utama kami. Disamping buku terbitan baru, ada buku lama yang kami jual dengan harga murah dari harga Rp 2.500 sd Rp 7.500,- Teman teman jika ada kesempatan berkunjung ya..

20 Mei 2008

TERBEBAS DARI KEINGINAN BERLEBIHAN



Sungguh menarik bagi saya membaca iklan Selamat Hari Raya Trisuci Waisak 2008 yang dimuat Kompas Senin, 19 Mei 2008, dihalaman 8. Maknanya begitu dalam, mengingatkan kita agar waspada dalam menghadapi hidup yang penuh ambisi dan tantangan.

Petikan kalimat iklan tersebut adalah :

Ambisi dalam hidup adalah keharusan. Tanpanya kita tak akan maju dan berkembang. Semua impian dalam hidup mesti terwujud, tanpa itu hidup tak akan sempurna. Hidup adalah dilemma, saat terbebas dari keinginan berlebihan adalah kemustahilan, dan melupakan impian tanpa batas adalah sia sia



Kalimat tersebut sering menyeret kita untuk maju dan berkembang mewujudkan ambisi dalam hidup. Namun jika kita kurang berhati hati dalam menyikapinya maka bisa jadi kita akan terperangkap dalam kegelisahan hidup. Akan lebih bijak dan sempurna jika disikapi dengan prinsip hidup :

“ hidup akan sempurna saat terbebas dari keinginan berlebihan ”



* Periksa foto koreksi pernyataan kalimat tersebut diatas.

25 April 2008

KOMUNITAS TROOPER INDONESIA (KTI)

Berawal dari mobil tua B 21 MU, Chevrolet Trooper hijau keluaran tahun 1987. Mobil ini sejak tahun 1998 - 2003 dengan setianya mengantar dan menemaniku keluar masuk kota/desa di wilayah Cirebon. Bersama pengrajin aku pernah berusaha dibidang produksi mebel rotan/kayu. Bersama nelayan pernah menjadi tenaga pendamping pada Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pesisir (PEMP). Disamping hobi jalan jalan keluar masuk desa didaerah yang berkontur alam pegunungan maupun pesisir.
Namun sejak 2003 dimana kebijakan Pemerintah tidak berpihak kepada pengrajin mebel rotan Cirebon, memaksa aku untuk mengalihkan kegiatan (hijrah) kembali Jakarta. Namun semenjak aku tinggalkan, nyaris Trooper itu nongkrong tak terurus sebagai besi tua, dibawah pohon mangga. Angin, hujan, dan panas nyaris membuat mobil tuaku sempat dihargai sebagai besi tua (scrap). Beruntung saya menemukan situs Komunitas Trooper Indonesia. Para pemilik mobil Trooper bisa dengan kreatif memperbaiki dan memodifikasi mobil tuanya tidak kalah gaya dengan mobil baru. Wadah khusus pemilik kendaraan itu bernama Komunitas Trooper Indonesia (KTI).

Komunitas ini, berasaskan kekeluargaan. Anggotanya, para pemilik Trooper dan yang belum memilikinya tapi ingin bergabung karena suatu saat ingin memiliki. Ingin gabung , silahkan saja klik http://groups.yahoo.com/group/trooper_indonesia/messages?o=1.

Misi Komunitas Trooper Indonesia, ingin mengajak pehobi otomotif secara umum dan pemilik serta pencinta Trooper secara khusus di Indonesia untuk saling mengenal dan bertukar informasi seputar Trooper dan otomotif. Tiap anggota diharapkan mau berbagi informasi pada anggota yang membutuhkan. ”Pertukaran informasi adalah tujuan utama didirikannya komunitas ini.

Jumlah anggota yang aktif, sekitar 30 orang. Sedangkan anggota milis ini lebih dari 100 orang. Tiap hari Minggu komunitas ini ngumpul rutin. Persisnya tiap minggu ke-2 pukul 10.00 di JL Pati Unus, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (samping lapangan tenis), dan minggu ke-4, pukul 16.00 di Parkir Timur Senayan.

Trooper adalah jenis SUV (sport utility vehicle) lawas, keluaran Chevrolet dengan 2 varian. Edisi pertama diluncurkan tahun 1984 sampai 1991 merupakan versi diesel. Sementara versi bensin dikeluarkan akhir 1991 sampai 1996.

Ada yang berminat untuk membangun mobil tuanya.. Ayo gabung saja.